Latar Belakang Pentingnya Bimbingan Konseling

Latar Belakang Perlunya Bimbingan dan Konseling

bimbingan konseling
Bimbingan Konseling
Bimbingan dan konseling merupakan salah satu bidang pelayanan yang perlu dilaksanakan di dalam program pendidikan. Kebutuhan pelaksanaan bimbingan dan konseling berlatar belakang beberapa aspek, yaitu:

Latar Belakang Psikologis

Siswa sebagai individu yang dinamis dan berada dalam proses perkembangan, memiliki kebutuhan dan dinamika dalam interaksinya dengan lingkungannya. Siswa sebagai pelajar, senantiasa terjadi adanya perubahan tingkah laku sebagai hasil proses belajar.

Timbulnya masalah-masalah psikologis menuntut adanya upaya pemecahan melalui layanan bimbingan dan konseling. Beberapa masalah psikologis yang merupakan latar belakang perlunya bimbingan dan konseling di sekolah:

  • Masalah Perkembangan Individu 


Sejak individu terbentuk sebagai suatu organisme, yaitu pada masa konsepsi (masa dibuahinya sel telur oleh sperma) yang terjadi dalam kandungan ibu, individu terus tumbuh dan berkembang. Proses ini berlangsung terus hingga individu mengkhiri hayatnya. Proses pertumbuhan dan perkembangan yang berlangsung sangat cepat terutama nampak sejak lahir yaitu pada masa kanak-kanak, masa sekolah, masa pemuda, dan masa permulaan dewasa. Tujuan proses pertumbuhan dan perkembangan adalah mencapai kedewasaan yang sempurna secara optimal.

Proses perkembangan dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari dalam diri individu maupun dari luar. Dari dalam dipengaruhi oleh faktor bawaan dan kematangan, sedangkan dari luar dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Perkembangan akan menjadi baik kalau faktor-faktor tersebut saling mendukung dan saling melengkapai. Oleh karena itu harus ada asuhan yang terarah. Adapun asuhan dengan melalui belajar sering disebut pendidikan.

Bimbingan dan konseling merupakan bantuan yang diberikan kepada individu di dalam memperoleh penyesuaian diri sesuai dengan tingkat perkembangannya. Dalam konsepsi tentang tugas-tugas perkembangan (developmental task) dikatakan bahwa setiap periode tertentu terdapat  tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikan. Berhasil tidaknya individu dalam menyelesaikan tugas-tugas tersebut akan berpengaruh bagi perkembangan selanjutnya dalam penyesuaian dirinya di dalam masyarakat. Melalui layanan bimbingan dan konseling, siswa dibantu agar dapat mencapai tugas-tugas perkembangan dengan baik.

Dilihat dari proses dan fase perkembangannya, para siswa berada pada fase masa remaja (adolesensi). Masa ini ditandai dengan berbagai perubahan menuju ke arah tercapainya kematangan dalam berbagai aspek seperti biologis. Intelektual, emosional, nilai-nilai hidup dan sebagainya.

Dalam rentangan masa transisi ini siswa akan mengalami berbagai goncangan yang akan mempengaruhi seluruh pola-pola perilakunya. Maka secara langsung atau tidak, hal ini akan mempengaruhi proses belajar mereka di sekolah.

Mengingat hal tersebut di atas, maka sekolah mempunyai peranan yang penting dalam membantu siswa untuk mencapai taraf perkembangan melalui pemenuhan tugas-tugas perkembangan secara optimal. Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan komponen pendidikan yang secara khusus dapat membantu siswa dalam proses perkembangannya.

  • Masalah Perbedaan individu


Keunikan dari individu mengandung arti bahwa tidak ada dua orang individu yang sama persis di dalam aspek-aspek pribadinya, baik aspek jasmaniah maupun rohaniah. Individu yang satu berbeda dari individu yang lainnya. Timbulnya individu ini dapat kita kembalikan kepada faktor pembawaan dan lingkungan sebagai komponen utama bagi terbentuknya keunikan individu. 

Mengingat bahwa yang menjadi tujuan pendidikan adalah perkembangan yang optimal dari setiap individu, maka masalah perbedaan individu ini perlu mendapat perhatian dalam pelayanan pendidikan. Usaha melayani siswa secara individual ini dapat diselenggarakan melalui program bimbingan dan konseling. Dengan demikian keunikan dari masing-masing siswa itu tidak akan begitu banyak menimbulkan masalah yang menghambat mereka dalam seluruh proses pendidikannya.

  • Masalah Kebutuhan Individu


Kebutuhan merupakan dasar timbulnya tingkah laku individu. Individu bertingkah laku karena ada dorongan untuk memenuhi kebutuhannya. Pemenuhan kebutuhan ini sifatnya mendasar bagi kelangsungan hidup individu itu sendiri. baik dalam mengenal kebutuhan diri siswa maupun dalam memberikan bantuan yang sebaik-baiknya dalam usaha memenuhi kebutuhan tersebut. Seperti telah dikatakan di atas, kegagalan dalam memenuhi kebutuhan ini akan banyak menimbulkan masalah bagi dirinya.

Pada umumnya secara psikologis dikenal ada dua jenis kebutuhan dalam diri individu yaitu kebutuhan biologis dan kebutuhan sosial/psikologis. Beberapa kebutuhan- kebutuhan yang dikemukakan oleh Maslow mencakup kebutuhan: fisiologis, rasa aman, cinta dan dicintai, harga diri, dan aktualisasi diri. 

  • Masalah penyesuaian diri


Dalam proses pemenuhan kebutuhan dirinya, individu dituntut mampu menyesuaikan antara kebutuhan dengan segala kemungkinan yang ada dalam lingkungannya. Pada kenyataannya proses penyesuaian diri ini banyak sekali menimbulkan berbagai masalah terutama bagi diri individu itu sendiri

  • Masalah belajar


Beberapa masalah belajar siswa, misalnya pengaturan waktu belajar, memilih cara belajar yang efektif, mempersiapkan ujian atau ulangan, cara memusatkan perhatian (konsentrasi) belajar, cara belajar kelompok, dan lain sebagainya.

Untuk itu hendaknya sekolah memberikan bantuan kepada siswa dalam mengatasi masalah-masalah yang timbul dalam kegiatan belajar. Di sinilah letak pentingnya program bimbingan dan konseling untuk membantu mereka dalam keberhasilan belajar

Latar Belakang Sosial Budaya

Kehidupan yang terlalu berorientasi pada kemajuan dalam bidang material (pemenuhan kebutuhan biologis) telah menelantarkan  supraempiris  manusia  sehingga terjadi pemiskinan ruhaniah dalam dirinya. Kondisi ini ternyata sangat kondusif bagi berkembangnya masalah-masalah pribadi yang terekspresikan dalam  suasana psikologis yang kurang nyaman seperti perasaan cemas, stress, perasaan terasing serta sering terjadi penyimpangan moral dalam sistem nilai.

Kegiatan belajar dan pembelajaran merupakan salah satu kegiatan yang diberikan di sekolah, namun sesungguhnnya kegiatan itu saja belum cukup memadai dalam membantu siswa mengatasi berbagai permasalahan yang dialaminya dan  menyiapkan siswa terjun di masyarakat dengan berhasil

Latar Belakang Paedagogis

Sesuai dengan kebijaksanaan pemerintah, pendidikan diartikan sebagai suatu usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian yang berlangsung di sekolah maupun di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Tujuan pendidikan sebagaimana dikemukakan dalam GBHN adalah: “Untuk meningkatkan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air, agar dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangunan dirinya sendiri serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”. Dengan demikian, setiap kegiatan proses pendidikan diarahkan kepada tercapainya pribadi-pribadi yang berkembang optimal sesuai dengan potensi masing-masing. Untuk menuju tercapainya pribadi yang berkembang, maka kegiatan pendidikan hendaknya bersifat menyeluruh yang tidak hanya berupa kegiatan instruksional (pengajaran), akan tetapi meliputi kegiatan yang menjamin bahwa setiap anak didik secara pribadi mendapat layanan sehingga akhirnya dapat berkembang secara optimal. Kegiatan pendidikan yang diinginkan seperti tersebut di atas, adalah kegiatan pendidikan yang ditandai dengan pengadministrasian yang baik, kurukulum beserta proses belajar pembelajaran yang memadai, dan layanan pribadi kepada anak didik melalui bimbingan.

Secara akademis masih nampak gejala bahwa anak didik belum mencapai prestasi belajar secara optimal. Hal ini nampak antara lain gejala-gejala: putus sekolah, tinggal kelas, lambat belajar, berprestasi rendah, kekurangpercayaan masyarakat terhadap hasil pendidikan, dan sebagainya. Secara psikologis masih banyak adanya gejala-gejala perkembangan kepribadian yang kurang matang, gejala salah suai, kurang percaya pada diri sendiri, kecemasan, putus asa, bersikap santai, kurang responsif, ketergantangan, pribadi yang tidak seimbang, dan sebagainya. Demikian juga secara sosial ada kecenderungan anak didik belum memiliki kemampuan penyesuaian sosial secara memadai. Sehubungan dengan hal itu, layanan bimbingan dirasakan amat berperan dalam membantu proses dan pencapaian tujuan pendidikan secara paripurna.

DAFTAR PUSTAKA
Sobur, Alex. 2003. Psikolgi Umum. Bandung: CV. Pustaka Setia.
Sugiyo. 2006. Psikologi Sosial. Semarang: Universitas Negeri Semarang.
Mugiharso, Heru dkk. 2010. Bimbingan dan Konseling. Semarang: Pusat Pengembangan MKU/MKDK-LP3 Universitas Negeri Semarang.

0 Response to "Latar Belakang Pentingnya Bimbingan Konseling"

Post a Comment