Ciri-Ciri Gangguan Panik dan Cara Mengatasinya

Gangguan Panik

Gangguan panik mencakup munculnya serangan panik yang berulang dan tidak terduga. Serangan-serangan panik melibatkan reaksi kecemasan yang intens diserti dengan simtom-simtom fisik seperti jantung berdebar, nafas cepat, nafas tersengal, atau kesulitan bernafas, berkeringat banyak, dan rasa lemas serta pusing tujuh keliling (Glass dalam Jeffrey, Spencer dan Beverly, 2005).

Serangan biasanya berlangsung selama beberapa menit, tetapi dapat berlanjut sampai berjam-jam, dan diasosiasikan dengan dorongan yang kuat untuk melarikan diri dari situasi di mana serangan itu terjadi. Supaya diagnosis gangguan panik dapat ditegakkan, harus ada serangan panik yang tak terduga dan terjadi berulang-ulang. Serangan-serangan yang tidak dipicu oleh situasi atau objek yang spesifik.

Panik
Panik (https://senjatarohani.files.wordpress.com)
Meskipun serangan panik sepertinya muncul begitu saja, namun sebenarnya serangan panik akan muncul sebagai akibat dari stres, emosi, yag berlangsung untuk waktu yang lama, kekhawatiran mengenai sesuatu secara spesifik, atau pengalaman yang menimbulkan rasa takut (MC Nally, dalam http://kuliahpsikologiabnormal.blogspot.com/2011/12/gangguan-kecemasan.html). Sebagai contoh, salah seorang teman kami menjadi penumpang pesawat yang mendapatkan ancaman bom pada saat pesawat tersbut berada pada ketinggian 33.000 kaki, pada saat itu teman kami mampu menghadapai situasi tersebut dengan sangat baik, namun 2 minggu kemudian, secara tiba-tiba ia mengalami serangan panik.

Baca Juga : Pengertian dan Ciri-ciri Seseorang Menderita Kecemasan

Suatu diagnosis gangguan panik didasarkan pada kriteria berikut:

  1. Mengalami serangan panik secara berulang dan tak terduga (sedikitnya dua kali)
  2. Sedikitnya satu dari serangan tersebut diikuti oleh paling tidak satu bulan rasa takut yang persisten akan adanya serangan berikutnya, atau rasa cemas akan implikasi atau konsekuensi dari serangan (misalnya, takut kehilangan akal atau “menjadi gila” atau menderita serangan jantung), atau perubahan tingkah laku yang signifikan (misalnya, menolak meninggalkan rumah atau keluar ke masyarakat karena takut mendapat serangan lagi) (APA dalam Jeffrey, Spencer dan Beverly, 2005).

A. Ciri-ciri Diagnostik dari Serangan Panik

Ciri berikut ini tiba-tiba muncul dan mencapai puncaknya dalam waktu 10 menit:
1. Palpitasi jantung, jantung berdegup-degup, tachycardia (denyut jantung cepat)
2. Berkeringat
3. Bergetar atau gemetar
4. Nafas pendek atau sensasi seperti terselubung sesuatu
5. Sensasi seperti tercekik
6. Sakit atau perasaan tak nyaman di dada
7. Perasaan mual atau tanda-tanda distres abdominal lainnya
8. Perasaan pusing, ketidakseimbangan, kepala enteng, atau seperti mau pingsan
9. Perasaan aneh atau tidak riil tentang lingkungannya (derealisasi) atau perasaan asing tentang dirinya sendiri (dispersonalisasi)
10. Perasaan takut kehilangan kendali atau akan menjadi gila
11. Takut akan mati
12. Mati rasa atau sensasi kesemutan
13. Merasa kedinginan atau kepanasan

B. Etoilogi Gangguan Panik


  • Teori Biologis

Dalam bebrapa kasus, sensasi fisik yang disebabkan oleh suatu penyakit memicu beberapa orang mengalami ganggaun panik. Sebagai contoh, sindrom penurunan katup kiri jantung menyebabkan jantung berdebar, penyakit telinga bagian dalam meyebabkan kepusingan yang dirasakan menakutkan bagi beberapa orang dan memicu terjadinya ganggaun panik (Asmundson, Larsen, & Stein, 1998; Hamada dkk., 1998) (http://kuliahpsikologiabnormal.blogspot.com/2011/12/gangguan-kecemasan.html).

  • Teori Psikologis. 

Teori psikologi utama mengenai agoraphobia yang sering menyertai ganggaun panik adalah hipotesis ketakutan-terhadap-ketakutan (a.l., Goldstein & Chambless, 1978) (http://kuliahpsikologiabnormal.blogspot.com/2011/12/gangguan-kecemasan.html),yang berpendapat bahwa agoraphobia bukanlah ketakutan terhadap tempat-tempat umum itu sendiri, melainkan ketakutan mengalami serangan panik d tempat umum.

C. Terapi Untuk Gangguan Panik dan Agorafobia


  • Penanganan Biologis

Karena penderrita gangguan panik biasanya berkonsultasi dengan dokter sebelum mereka menemui psikolog atau psikiater, pengobatan psikoaktif umumnya merupakan pananganan awal dan terkadang satu-satunya jenis penanganan yang diterima seseorang. Pemasaran besar-besaran obat-obatan antipanik melalui media kemungkinan juga merupakan suatu faktor. Beberapa obat telah menunjukkan keberhasilan sebagai penanganan biologis bagi ganggaun apanik. Obat-obatan tersebut mencakup antidepresan (penghambat pengembalian serotoninselektif, seperti Prozac, dan antidepresan tiga siklus seperti Tofranil) dan benzodiazepine (seperti Alparozalam atau Xanax) (Roy-Byrne & Cowley, 1998). Bukti efektifitas Alprazolam sangat meyakinkan kerana diperoleh melalui studi berskala besar dan multinasional(Ballenger dkk., 1998 ).
(http://kuliahpsikologiabnormal.blogspot.com/2011/12/gangguan-kecemasan.html).

  • Penanganan Psikologis

Terapi dengan memmberikan pemaparan seringkali berguna untuk mengurangi agorafobia (atau dalam istilah DSM-IV-TR, gangguan panik dengan agorafobia), dan keuntungan ini sangat dipertahankann selama bertahun-tahun setelah selesainya terapi (Fava dkk., 1995). Beberapa studi menemukan bahwa efek pemaparan meningkat bila pasien didorong untuk rileks selama pemaparan langsung (Michelson, Marchione, & Greenwald, 1989), namun beberapa studi lain tidak menunjukkan manfaat tambahan dari relaksasi (Ost, Hellstrom, & Westling, 1989). (http://kuliahpsikologiabnormal.blogspot.com/2011/12/gangguan-kecemasan.html).

0 Response to "Ciri-Ciri Gangguan Panik dan Cara Mengatasinya"

Post a Comment