15 Kekeliruan Fatal Bimbingan Konseling di Indonesia

Bimbingan Konseling sebagai sebuah profesi penyangga pendidikan nyatanya belum diterima masyarakat. Kondisi ini berbeda dengan negara-negara Eropa dan Amerika dimana konseling, baik di dalam sekolah maupun di luar, telah menjadi salah satu lembaga yang disegani dan dibutuhkan. Belum diterima secara meluasnya bimbingan konseling dipicu oleh berbagai masalah yang terjadi di lapangan. Persoalan itu berkait era dengan kinerja konselor yang rendah, sistem penempatan, hingga kultur instan pendidikan. Alhasil, bimbingan konseling pun masih harus tertatih-tatih hingga kini guna memperbaiki citra di masyarakat.
Kesalahan bimbingan konseling
Proses konseling
Persoalan itu diuraikan oleh Prayitno (2003) ke dalam 15 poin identifikasi kekeliruan pemahaman orang terhadap bimbingan konseling.

1. Bimbingan Konseling (BK) dipisahkan dari pendidikan

Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa BK identik dengan pendidikan sehingga sekolah tidak perlu lagi bersusah payah menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling, karena dianggap sudah implisit dalam pendidikan itu sendiri. Cukup mantapkan saja pengajaran sebagai pelaksanaan nyata dari pendidikan.

Persoalannya, sekalipun guru mapel dituntut untuk melakukan kegiatan-kegiatan interpersonal dengan para siswa, namun kenyataan menunjukkan masih banyak hal yang tak bisa dikover oleh guru mapel. Sebagai contoh, masalah pribadi, sosial, dan karier siswa tidak bakal ada dalam kurikulum mapel yang hanya memiliki satu tujuan, yakni bagaimana siswa dapat tuntas memahami isi materi mapel tersebut. 

Oleh sebab itu, BK menjadi penting untuk mengurai masalah pribadi, sosial, belajar, karier yang sangat potensial mengganggu siswa memahami isi materi suatu pelajaran. Tugas BK pada intinya adalah mengantarkan siswa mengembangkan diri secara optimal. Perbedaan tugas guru BK dan guru mapel terletak dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya, dimana masing-masing memiliki karakteristik. Perpaduan yang baik antara guru BK dan guru mapel itulah yang mestinya dikembangkan, dan jika berhasil, bukan tidak mungkin siswa mampu mencapai aktualisasi diri yang optimal.

2. Menyamakan BK dengan pekerjaan dokter atau psikiater

Kerja BK menangani orang-orang normal (sehat), sedangkan dokter maupun psikiater menangani orang-orang sakit (baik fisik maupun mental). Secara teknis, praktik konselor hampir sama dengan dokter, yakni melakukan assesment, kemudian baru memasuki tahapan pemecahan masalah. BK memberikan cara-cara pemecahan masalah secara konseptual melalui pengubahan orientasi pribadi, penguatan mental/ psikis, modifikasi perilaku, pengubahan lingkungan, dan upaya-upaya mengembangkan diri konseli dengan teknik-teknik konseling tertentu.

3. BK Dipandang menangani masalah yang bersifat insidental

Kekeliruan yang sering terjadi adalah terkait gerak penanganan masalah BK yang bersifat reaktif, bukan proaktif. BK dipandang sekadar menangani masalah yang terjadi, bukan mencegah dan menindaklanjuti sebuah masalah. Misalnya, BK baru bergerak jika ada siswa bermasalah. Lha sebelumnya ngapain? BK yang ideal seharusnya mampu menganalisis sejumlah kemungkinan. Program-program bersifat proaktif dan antisipatif, baik untuk kepentingan pencegahan, pengembangan, maupun pengentasan masalah.

4. Bimbingan konseling hanya untuk siswa bermasalah

Bentuk kekeliruan yang mungkin paling banyak adalah “mengindentikkan BK dengan siswa bermasalah/ nakal.” Ini terjadi turun-temurun di banyak sekolah, di berbagai jenjang. Padahal, BK tak saja identik dengan pernyataan itu. Pengidentikan BK dengan siswa bermasalah itu menurunkan nilai BK di masyarakat karena BK dipandang sebatas polisi sekolah yang kerjaannya hanya menilang siswa-siswa pelanggar!

BK mengakomodasi seluruh siswa sebab setiap siswa memiliki potensi yang harus dikembangkan, juga memiliki masalah yang harus diatasi. Misalnya saja begini, ada siswa ranking satu yang bingung memilih jurusan kuliah. Apakah itu bukan masalah namanya? Apakah itu bukan wilayah BK untuk mengatasinya? Lalu, jika ada siswa yang juara satu tapi tak mampu bersosialisasi diri dengan baik. Apakah itu juga bukan masalah? Ada banyak problem siswa yang tidak tercover oleh pandangan guru mapel, dan hanya BK semata yang mengetahui persoalan itu.

Jadi, masalah siswa bukan saja membolos, tidak mengerjakan PR, atau suka mengganggu teman. Apalagi hanya berkutat soal siswa berambut gondrong! Bukan BK banget tuh!

5. Bimbingan konseling melayani orang sakit atau kurang normal

Mari bedakan arti kata sakit mental dengan gangguan mental, antara normal dan abnormal. Sakit mental, pendeknya, bisa diterjemahkan stress, depresi. Tapi, gangguan mental diderita setiap orang. Wujudnya bisa bermacam-macam, seperti bingung, tidak percaya diri, merasa takut, merasa gagal, galau, patah hati. Tidak setiap orang sakit mental, tapi pasti semua orang mengalami gangguan mental. Apakah ada yang seumur hidupnya bahagia terus tanpa pernah merasa gagal, tertekan tanggung jawab, patah hati, galau, gugup, tidak percaya diri? Jika ada, saya ucapkan selamat karena kamu bukan manusia. Sudah pasti, kamu adalah Tuhan itu sendiri.

Nah, BK memiliki posisi untuk menangani hal itu pada manusia normal. Gangguan mental akan berakibat pada meredupnya potensi diri dan menghambat perkembangan aktualisasi diri. Sedangkan pada tataran sakit mental, psikolog dan psikiaterlah yang memiliki tanggung jawab besar menanganinya. Sekalipun BK tidak bisa menangani, maka BK memilih untuk melakukan alih tangan kasus.

6. Bimbingan konseling berfokus pada keluhan pertama saja

Pada umumnya usaha pemberian bantuan memang diawali dari gejala yang ditemukan atau keluhan awal disampaikan konseli. Namun seringkali justru konselor mengejar dan mendalami gejala yang ada bukan inti masalah dari gejala yang muncul. Misalkan, menemukan siswa dengan gejala sering tidak masuk kelas, pelayanan dan pembicaraan bimbingan dan konseling malah berkutat pada persoalan tidak masuk kelas, bukan menggali sesuatu yang lebih dalam di balik tidak masuk kelasnya.

7. Bimbingan konseling menangani masalah ringan

Di balik buku, ada rimbunan kata-kata. Di balik laku, ada sengkarut makna. Sebuah laku tidak menunjukkan dengan persis apa yang ada di sebaliknya. Begitu pula dengan masalah yang terlihat belum merepresentasikan apa yang menjadi akar-akarnya. Sebuah masalah bisa sangat besar di sebaliknya jika didalami. Dan mendalami sebuah masalah itu adalah tugas yang berat, sekaligus melibatkan kecermatan dan ketuntasan yang maksimal. Seorang konselor tidak bisa semata-mata menghakimi sebuah masalah yang sekadar tampak di luar, dan dengan mudah melakukan perbaikan di wilayah itu saja.

8. Bimbingan konseling adalah polisi sekolah

Siluman sistemik, barangkali pas jika menyebut kondisi ini. Tak saja persoalan kinerja profesional konselor yang mesti dipertanyakan, namun bagaimana sistem pendidikan di suatu sekolah bekerja, patut dipertanyakan. Banyak sekali sekolah yang dengan enteng menempatkan guru BK sebagai polisi sekolah yang tugasnya menggawangi ketertiban dan ketaatan siswa pada tatib sekolah. Juga, seorang guru BK ditempatkan di posisi hakim yang menjatuhkan hukum, dan seorang polisi yang menjerat siswa yang melanggar. Sampai di sini, tugas pokok BK yang sesuai dengan visi misi pada akhirnya larut dan kabur bersamaan dengan semakin beringasnya wajah guru BK di hadapan siswa. Apakah anda nyaman menyerahkan seisi rumah kepada maling? Begitu pula, apakah seorang siswa dapat mendekap guru BK jika lagaknya saja dilumuri kekerasan?

9. Bimbingan konseling: Sang pemberi nasihat

Nasihat itu bermata dua. Di satu sisi membangun, dan di sisi lain menyesatkan. Sisi pertama sangat kecil, sedang di sisi kedua sangat besar peluangnya. Yang mengetahui persoalan pasti juga pilihan solusi terbaik adalah diri sendiri. Guru BK justru lebih identik dengan nasihat daripada mengantarkan siswa memahami apa masalahnya dan bagaimana menyelesaikannya sebaik mungkin dari dirinya. Pilihan menasehati memang lebih mudah, dan karenanya sering dilakukan. Hingga akhir, bimbingan konseling tidak lagi berbicara mengenai pengembangan, pembimbingan, dan pendewasaan siswa, tapi justru berjuluk “Sang Petuah Nasihat.”

10. Bimbingan konseling bekerja sendirian

Tugas bimbingan konseling yang baik sejatinya merelasikan diri dengan banyak pihak. Persoalan manusia itu bukan persoalan robotik yang akan selesai di satu tangan teknisi mesin. Maka, guru BK yang sok keminter dengan mengisolasi diri dalam ruang khusus akan menemu jalan buntu. Melibatkan peran guru mapel, orang tua, dan stakeholder akan menambah bagus kinerja bimbingan konseling. Oleh karenanya, guru BK haruslah cair, dan memiliki integritas yang membangun lingkungan kondusif. Ya, sekalipun pada banyak faktanya, integritas guru BK juga bersitegang dengan banyak pihak dalam sistem pendidikan.

11. Konsoler aktif, pihak lain pasif

Sesuai dengan asas kegiatan, di samping konselor yang bertindak sebagai pusat penggerak bimbingan dan konseling, pihak lain pun, terutama klien,harus secara langsung aktif terlibat dalam proses tersebut.Lebih jauh, pihak-pihak lain hendaknya tidak membiarkan konselor bergerak dan berjalan sendiri. Di sekolah, guru pembimbing memang harus aktif, bersikap “jemput bola”, tidak hanya menunggu didatangi siswa yang meminta layanan kepadanya.Sementara itu, personil sekolah yang lain hendaknya membantu kelancaran usaha pelayanan itu. Pada dasarnya pelayanan bimbingan dan konseling adalah usaha bersama yang beban kegiatannya tidak semata-mata ditimpakan hanya kepada konselor saja. Jika kegiatan yang pada dasarnya bersifat usaha bersama itu hanya dilakukan oleh satu pihak saja, dalam hal ini konselor, maka hasilnya akan kurang mantap, tersendat-sendat, atau bahkan tidak berjalan sama sekali.

12. Menganggap kerja bimbingan konseling bisa dilakukan oleh siapa saja

Hanya menasehati siswa? Saya juga bisa! Persepsi ini nyatanya bak jamur di musim penghujan, merebak di tiap kepala orang. Tugas BK di banyak sekolah justru diduduki oleh guru non BK yang mendaku diri bisa menjalankan tugas BK secara optimal. Hal itupun memicu sebuah seloroh khas “Guru BK itu terima gaji buta” sebab kinerjanya hanya duduk-duduk, menyidak, menghakimi, dan paling jauh sekadar menasehati.

Bimbingan dan konseling itu dilaksanakan berdasarkan prinsip-prinsip keilmuan dan teknologi (yaitu mengikuti filosofi, tujuan, metode, dan asas-asas tertentu), dengan kata lain dilaksanakan secara profesional. Salah satu ciri keprofesionalan bimbingan dan konseling yakni pelayanan itu harus dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidang bimbingan dan konseling. Keahliannya itu diperoleh melalui pendidikan dan latihan yang cukup lama di Perguruan Tinggi.

13. Sama-ratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien

Cara apapun yang akan dipakai untuk mengatasi masalah haruslah disesuaikan dengan pribadi klien dan berbagai hal yang terkait dengannya.Tidak ada suatu cara pun yang ampuh untuk semua klien dan semua masalah. Bahkan sering kali terjadi, untuk masalah yang sama pun cara yang dipakai perlu dibedakan. Masalah yang tampaknya “sama” setelah dikaji secara mendalam mungkin ternyata hakekatnya berbeda, sehingga diperlukan cara yang berbeda untuk mengatasinya. Pada dasarnya.pemakaian sesuatu cara bergantung pada pribadi klien, jenis dan sifat masalah, tujuan yang ingin dicapai, kemampuan petugas bimbingan dan konseling, dan sarana yang tersedia.

14. Memusatkan usaha bimbingan konseling hanya pada instrumen

Perlengkapan dan sarana utama yang pasti dan dapat dikembangkan pada diri konselor adalah “mulut” dan keterampilan pribadi. Dengan kata lain, ada dan digunakannya instrumen (tes, inventori, angket, dan sebagainya itu) hanyalah sekedar pembantu. Ketidaan alat-alat itu tidak boleh mengganggu, menghambat, atau bahkan melumpuhkan sama sekali usaha pelayanan bimbingan dan konseling.Oleh sebab itu, konselor hendaklah tidak menjadikan ketiadaan instrumen seperti itu sebagai alasan atau dalih untuk mengurangi, apa lagi tidak melaksanakan layanan bimbingan dan konseling sama sekali.Tugas bimbingan dan konseling yang baik akan selalu menggunakan apa yang dimiliki secara optimal sambil terus berusaha mengembangkan sarana-sarana penunjang yang diperlukan

15. Hasil kerja bimbingan konseling harus segera terlihat

Sebuah perubahan, apalagi tingkah laku dan pola pikir, tidak segampang membalik tangan. Sebuah treatmen yang dilakukan tidak langsung membuahkan hasil seperti yang diinginkan. Laku dan pikiran itu dibentuk dalam jangka waktu yang lama, sekaligus membutuhkan kontinuitas yang stabil. Sayangnya, tak saja guru BK, namun guru-guru mapel menghendaki agar perubahan siswa ke arah positif cepat terjadi. Ini membuat konselor memilih jalan pintas dengan menasehati, juga memberi hukuman. Padahal, menghukum dan menasehati hanya akan menambah kebebalan siswa pada sebuah masalah, bukan menyelesaikannya. Misalnya saja, ada siswa yang sering membolos. Lantas, agar cepat, siswa diberikan hukuman dan ancaman tanpa memahami seluk beluk persoalan. Atau, ada seorang siswa yang suka akan rambut gondrong, namun oleh guru BK-nya tidak diperbolehkan tanpa diketahui alasan yang masuk akal. Tiba-tiba, tiap kali rambut gondrong dipotong, dan dikenakan sanksi. Setelah keluar, dan menjadi mahasiswa (yang sayangnya berada di jurusan BK), ia menggondrongkan rambutnya sebagai perlawanan terhadap tengiknya sistem sekolahan yang normatif namun kosong.
Nah lho!


0 Response to "15 Kekeliruan Fatal Bimbingan Konseling di Indonesia"

Post a Comment