Maudy Ayunda dan Solusi Masalah Literasi Indonesia

Mendikbud Mas Anies Baswedan sempat pusing memikirkan masalah literasi di Indonesia. Di masa awal kerjanya, Anies mendapatkan laporan bahwa presentase minat baca Indonesia hanya sebesar 0,01 persen! Bayangkan pemirsa, diantara 1.000 orang hanya ada satu orang saja yang membaca. Lebih mengerikan daripada presentase perbandingan jumlah perempuan cantik yang siap dinikahi dengan laki-laki berstatus menjomblo kan?

Saya ada usul untuk masalah literasi Indonesia yang berada di zona degradasi itu. Sebuah terobosan yang cespleng buat Pakde Mendikbud sekarang, yang menjembatani jurang status sosial antar satu orang dengan yang lainnya. Selain itu, tentunya bisa meningkatkan literasi di Indonesia. Solusi tersebut adalah menggandeng para artis yang punya track record bagus di bidang pendidikan untuk diajak ngobrol dengan para fansnya.

Maudy Ayunda Haidup Indonesia
Haidup Indonesia
Jadi gini, kita tahu, artis sekarang, terutama yang muda-muda itu tidak berpolah kayak seniornya. Mereka ini rajin belajar, suka membaca buku, dan tentunya tidak berbuat neko-neko. Apalagi kawin, nikah, lalu cerai. Para artis muda itu juga tak doyan balapan atau membesarkan payudara agar bisa eksis dengan goyang driblenya. Mereka itu beda dan tentunya menarik banyak fans untuk menggemari mereka di tengah sengkarut wajah per-artis-an yang bopeng oleh kondom, sensasi, dan seksual.

Para artis ini mendapat beasiswa kuliah di perguruan tinggi terbaik dunia, mengambil jurusan yang nggilani banget. Selain itu, mereka juga mampu berprestasi dengan lulus tepat waktu dan raihan cumlaude! Luar biasa bukan. Sebut saja Cinta Laura yang mengambil jurusan Ilmu Politik dan Psikologi di Columbia University, Maudy Ayunda di jurusan Filsafat, Politik dan Ekonomi Oxford University, Vidi Aldiano di Universitas Manchester, Sherina Munaf di Sydney University, Isyana Sarasvati di Nanyang Academy of Fine Art, Singapura, dan tak ketinggalan sahabat saya sendiri, Gita Gutawa yang mengambil jurusan ekonomi di London School of Economics and Political Science, Inggris.

Weedan to.. Tambahan lagi, kebanyakan artis-artis itu berangkat kuliah ke luar negeri dari beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Beasiswa ini diperuntukkan untuk anak bangsa yang pintarnya Subhanallah untuk menimba ilmu di luar negeri. Melalui beasiswa itu, harapannya para lulusan dapat kembali ke Indonesia, dan mampu membangun bangsa ini.

Perlu saya tuturkan, bahwa ide ini diambil dari riset yang validitas dan reabilitasnya tidak terbantahkan. Suatu hari, saya bermain ke kantor penerbitan mahasiswa. Di sana, ada teman saya, sebut saja Teguh (nama sebenarnya). Dia ini memiliki kebiasaan unik tentang membaca buku maupun koran. Lelaki ganteng yang masih jomblo itu mengaku tetap menjaga nyala semangat membacanya untuk satu impian. Tiap kali ia akan membaca buku atau koran, ada ritual khusus yang senantiasa dia lakukan: mencium aroma buku dan koran. Selain itu, berita-berita yang dikonsumsinya pun amat jarang disentuh oleh awak lain, yakni berita politik dalam negeri maupun luar negeri, situasi ekonomi saat ini, hingga buku-buku filsafat Barat-Timur, baik yang klasik, modern, hingga post-mo.

Perhatian khusus pada berita-berita politik, sosial, ekonomi dan buku-buku filsafat tak lain dan tak bukan memiliki satu maksud. Teguh, sambil membaca buku, berharap suatu nanti berkesempatan mengobrol dengan seorang perempuan idolanya: Maudya Ayunda. Agar tak terlihat garing dan cupu di hadapan si doi, Teguh mesti bersiap mulai dari sekarang dengan memperluas wawasan dan memperbaharui informasi mengenai situasi politik dan sosial kekinian. Teguh pun sedang mengumpulkan buku-buku filsafat, ekonomi, dan sosial sebagai mas kawin. Siapa tahu, saat kesempatan ngobrol itu, Maudy Ayunda luluh hatinya melihat seorang pria muda yang tampan, sederhana, namun wawasannya di bidang filsafat politik dan sosial melebihi dirinya. Teguh pun sangat percaya diri, bahkan memelintir kata-kata terkenal Bung Hatta, idolanya di bidang filsafat kenegaraan: “Aku boleh saja jomblo abadi. Tapi bersama buku, aku bisa meminang Maudy!” Luar biasa bukan?

Saya langsung lemas mendengarnya!

Oleh sebab itu, Pakde Muhadjir yang tercintrong. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa Teguh-Teguh yang lain ini masih bergelimang di antara ratusan ribu jemaat pengidola artis yang cerdas dan pintar itu. Yang perlu dilakukan Pakde adalah memfasilitasi mereka-mereka ini untuk bisa mengobrol dengan sang artis pujaan. Nanti seleksinya adalah tes kegemaran membaca dan luasnya wawasan. Siapa yang paling luas wawasannya berkesempatan mengobrol tiga hari tiga malam di Karimun Jawa sambil menikmati sunset dan secangkir kopi atau coklat atau teh.

Di momen itu pula bakal terjadi diskusi ketat yang merumuskan solusi untuk persoalan di negeri ini. Bukankah itu yang harusnya dikerjakan oleh alumni LPDP? Saya yakin, setelah kebijakan itu ditetapkan, pasti akan banyak sekali anak muda giat belajar, membaca buku-buku, hidup 24 jam full time di perpustakaan demi menjadi lebih pintar dari artis-artis tersebut. Tingkat literasi Indonesia bakal meningkat pesat, Pakdhe!

Sudah itu, keuntungan lain bagi si artis, ia bisa memotong laku bejat calon pasangan-pasangan yang hanya memandang mereka dari sisi permukaan. Hanya bermodal kekayaan tapi nir wawasan dan kedewasaan. Kita tentu prihatin pada nasib Cita Citata yang tertipu pesona anggota dewan. Lha DPR kok dipercaya!

Bayangkan, orang yang membaca buku itu penuh empati. Artis-artis akan diberikan perhatian yang tulus dan tidak palsu macam anggota DPR itu. Lho, ini sudah terbukti melalui penelitian yang dilakukan Daniel Lerner dalam karyanya berjudul The Passing of Tradisional Society: Modernizing The Middle East (1978). Lerner menjelaskan, semakin masyarakat akrab dengan buku, maka kemampuan empatinya juga akan semakin meningkat. Ia peka terhadap situasi dan menempatkan dirinya pada pijakan yang tepat untuk menyelesaikan suatu masalah.

Jadi, artis-artis macam Gita Gutawa, Maudy Ayunda, Sherina Munaf, dan lain-lain tak perlu risau soal pasangan. Tak perlu waspada dengan menyiapkan kamera pengintai yang dipesan langsung dari kantor CIA sana hanya untuk mengawasi apakah pasangan selingkuh atau tidak. Tak perlu. Sang pasangan akan lebih banyak menyediakan waktu mendidik dan mengasuh anak-anaknya di rumah. Daftar list dongeng pengantar tidur untuk anak juga sudah ada. Daftar cerita yang penuh balutan asmara, motivasi, sampai tips diet sudah pasti tersedia untuk memenuhi hari-harimu, setiap malam-malammu.

Tidak bakal ada gamparan tangan, apalagi keinginan untuk menceraikan, atau bahkan sekadar memberi cincin ratusan juta rupiah, setelah itu ditiduri dan besoknya ditinggal pergi. Itu hanya berlaku, sekali lagi, bagi anggota DPR. Nggak bakal deh, justru yang terjadi adalah sebaliknya. Pasangan yang mengakrabi buku akan menyajikanmu ketentraman tak terduga-duga. Buku saja dirawat, disayang, dibaca dan dipahami, apalagi kamu?

Jadi, pesanku terakhir pada artis-artis. Jangan pernah menolak jika ada orang yang meski tampilannya kumal, kurang makan, sandalan jepit dengan kaos oblong kebesaran datang ke hadapan ayahanda dan ibundamu. Mereka akan meminangmu bukan dengan mas kawin sepetak rumah bertingkat lima dengan luas 1 hektare lengkap dengan taman bak istana, atau seratus mobil Alphard. Itu hanya akan menambah kemacetan jalan saja. Tidak menyelesaikan masalah bangsa. Mereka akan meminangmu dengan 1000 buku lengkap dengan raknya! Kalau ada laki-laki yang berniat begitu, saya berpesan, terimalah. Ia tidak sedang menawarkan kehidupan dunia yang penuh kefanaan ini. Ia sedang menawarimu untuk hidup bebas, merdeka, dan tentu saja, bahagia selama-lama-lama-lamanya.

Zarah Amala

Pengakrab buku

0 Response to "Maudy Ayunda dan Solusi Masalah Literasi Indonesia"

Post a Comment